• Sel. Mei 17th, 2022

BHAYANGKARA

PERDANA NEWS

Diduga Tilap Uang Admin Arisan, Wanita Muda Asal Plupuh Sragen di Polisikan. Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah ?

Byadmin

Mar 13, 2022

SRAGEN, bhayangkaraperdananews.com – Dugaan praktik penipuan penggelapan uang arisan online via WA, 4 orang admin yang didampingi kuasanya dari lembaga negara BPAN LAI Sragen kini melaporkan member atau peserta arisan kekepolisian dan mengalami kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Terlapor E warga Plupuh diduga tidak menepati setoran uang peserta arisan hingga menumpuk pada akhirnya membebani pihak admin dan menggelapkan uang setoran admin yang dibawanya.

Kronologi bermula dimana sekumpulan rekan-rekan sendiri yaitu memulai mengajak arisan melalui group WA secara kesepakatan bersama.

Ajakan para admin diantaranya SG (22) warga Jono Tanon, FB (22) warga Gading Tanon, MD (23) warga Bonagung Tanon, RT (25) warga Jeruk Miri Kabupaten Sragen disambut baik para teman-temannya atau para peserta. Arisan dikocok dalam waktu relatif dalam satu kali putaran. Tiap anggota arisan bisa menyetor hingga di kisaran Rp 1 jutaan.

Arisan group WA membuat teman-teman admin ramai-ramai ikut. Mereka menyetor lewat transfer. Dari kronologi kasus yang dilaporkan, awalnya, E proses lancar hingga akhirnya mulai macet. Selidik punya selidik, uang yang terkumpul tidak ditransfer ulang ke peserta yang mendapat arisan, tapi malah masuk kantong pribadi yang akhirnya membebani para admin.

“Dihitung-hitung, uang arisan yang digelapkan masuk ke pundi-pundinya mencapai Rp 400 juta dari kami 4 admin. E selaku peserta kemudian kami polisikan dengan sebelumnya kami memberikan kuasa pada pihak BPAN LAI Sragen. Saya mengaku menyesal perbuatan E yang tidak berterima kasih malah menipu uang kami, serta berjanji mengembalikan tapi tidak pernah ada kejelasan,” ungkap SG warga Jono Tanon.

Salah satu admin yang lain FB warga Gading juga menyatakan, dalam menjalankan arisan, membuka arisan dengan pembayaran menurun dengan besaran jumlah atau get/lis yang berbeda-beda. Di awal, E dalam menjalankan arisan ataupun investasi berjalan dengan lancar, sehingga member yang mengikuti arisan maupun investasi juga admin merasa yakin dan percaya tidak akan terjadi permasalahan.

“Namun itu merupakan modus yang dilakukan oleh E untuk meyakinkan para admin dapat mengikuti kembali arisan maupun investasi sehingga member yang sudah pernah ikut ataupun yang baru akan ikut tertarik lagi untuk mengikuti arisan maupun investasi tersebut dan setelah member melakukan pembayaran yang pertama atau pembayaran di awal maka yang akan mendapatkan arisan tersebut adalah owner dalam hal ini adalah E tidak pernah lagi melanjutkan arisan maupun investasi tersebut disetoran berikutnya,” ujarnya.

Beberapa kali dikonfirmasi juga ditagih para admin, E menyatakan terbukti secara sah mengakui dan meyakinkan bersalah melakukan dengan sengaja menggunakan uang admin tersebut.

Mereka atau admin kompak mendatangi E dirumahnya plupuh berkali-kali untuk bertemu akan tetapi sering ingkar hingga akhirnya mengadu pada BPAN (Badan Penelitian Aset Negara) LAI Sragen hingga sekarang kejalur hukum.

Informasi yang dihimpun, BPAN Sragen sempat mendatangi dan menegosiasi pada pihak E dan keluarganya, pihaknya menjanjikan dan mengakui perbuatannya dalam pemakaian uang admin, akan tetapi pihak E sendiri yang tidak kooperaktif.

MD (23) salah satu admin warga asal Bonagung Tanon, mengaku terpaksa melapor karena upayanya untuk meminta uangnya kembali tidak kunjung dipenuhi E tersebut. MD (23) mengatakan dia mengalami kerugian hingga Rp 80an juta.

“Saya menjalankan (arisan) sejak tahun kemarin, sampai sekarang tidak ada yang keluar sama sekali uang saya dari E. Kalau ditotal jumlah kerugian sekitar Rp 80 an juta,” ujarnya.

MD (23) mengaku sudah pernah berupaya menyelesaikan kasus ini bersama para admin lainnya. Namun, E selaku peserta arisan itu hanya bisa janji palsu soal pengembalian uang para admin arisan.

“Awalnya pada waktu itu ada rembugan, si E ini sudah bilang bahwa mau diselesaikan. Tapi ternyata sampai sekarang tidak ada iktikad baik. Waktu dicari dia sudah tidak ada di tempat,” ungkapnya.

Namun pada akhirnya para admin akhirnya mengadu pada BPAN (Badan Penelitian Aset Negara) LAI Sragen hingga sekarang kejalur hukum. Pihak BPAN Sragen sempat mendatangi dan menegosiasi pada pihak E dan keluarganya, pihaknya menjanjikan dan mengakui perbuatannya dalam pemakaian uang admin, akan tetapi pihak E sendiri yang tidak kooperaktif. Bahkan sempat dimediasi, E menyatakan terbukti secara sah mengakui dan meyakinkan bersalah melakukan dengan sengaja menggunakan uang admin tersebut.

Terkait praktik arisan yang diduga uang digelapkan pelaku itu sistem pelaksanaannya dilakukan dengan cara group online melalui Whatsapp. Uang yang dipakai oleh E sebagian besar melalui tranfer kerekening atas nama pelaku sendiri.

“Tapi kami juga belum dapat pernyataan resmi apakah yang dimaksud diusahakan itu dibayar atau diusahakan apa, intinya pihak E tidak ada jawaban kejelasan dan tidak kooperaktif. Pihak kami memediasi sampai 2 kali dengan disaksikan beberapa tokoh masyarakat didaerah pelaku, hingga akhirnya pihak kami mengawal para admin kasus ini keranah hukum hingga di Polres Sragen,” ucap Awi Ketua BPAN LAI Sragen.

Ketua BPAN LAI Sragen Awi pun mengimbau kepada masyarakat agar tak mudah tergiur berbagai modus arisan online yang pesertanya tidak jelas. Karena sampai saat ini, sudah ratusan korban yang melapor ke polisi mengaku telah terjebak oleh berbagi motif arisan tersebut.

Dia menyebut modus arisan online maupun fiktif marak terjadi akhir-akhir ini. Para pelaku diduga menggunakan momentum pandemi COVID saat banyak orang mengalami kesulitan ekonomi sehingga mudah diiming-imingi keuntungan.

Lanjut Awi, jadi memang ada juga untuk arisan fiktif di beberapa wilayah lainnya, memang memanfaatkan situasi psikologis masyarakat di tengah pandemi yang secara ekonomi serba sulit. Sehingga dengan adanya iming-iming keuntungan yang luar biasa, tentunya akan menjebak para korban untuk akhirnya mengikuti arisan.

“Akibat perbuatannya, pelaku diduga bisa terancam dijerat pasal 372 KUHP atau 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan dengan hukuman maksimal mencapai 4 tahun penjara. Berbagai barang bukti yang diamankan penyidik yaitu sejumlah buku tabungan milik admin, bukti transfer juga rekapan. 4 orang admin sudah kami mintai keterangan. Kasus saat ini sudah dalam tahap penyidikan dan beberapa korban kemarin sudah diperiksa semua oleh penyidik Polres Sragen.” Imbuhnya. (MBPN-Bibit/tim-LAI)