• Rab. Sep 22nd, 2021

BHAYANGKARA

PERDANA NEWS

Kontra Memori Banding Arwan Koty Diduga Tidak dibaca Majelis Hakim, Istri Terbanding Kecewa

Byadmin

Agu 30, 2021

JAKARTA, bhayangkaraperdananews.com – Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menggelar sidang putasan bading antara arwan koty selaku terbading dan Pt. Indotruck Utama sebagai Pebanding, di Jln. Letjen suprato jakarta pusat. (27/8/21).

Disaat persidangan digelar Finny Fong selaku istri arwan kity yang hadir menyaksikan sidang mendadak Histeris, menangis sejadi-jadinya hingga terjatuh dan nyaris pingsan karena kecewa dengan pertimbangan dan putusan majelis hakim.
Pasalnya, perkara banding wanprestasi antara PT Indotruck Utama sebagai pembanding dan Arwan Koty sebagai terbanding diregister dengan nomor: 264/Pdt/2021/PT DKI yang dibacakan oleh majelis hakim yang diketuai Dr Artha Theresia, SH, M.H.

Sedangkan Finny Fong hadir ke PT DKI Jakarta mendampingi suaminya Arwan Koty sebagai Terbanding untuk mencari keadilan bersama kuasa hukumnya. Menduga dalam memeriksa dan mengadili berkas perkara wanprestasi itu, majelis hakim yang mengadili perkara banding tersebut tidak transparan sehingga netralitasnya patut dipertanyakan. Majelis hakim telah mengabaikan Kontra memori banding milik terbanding.

Finny juga mempertanyakan kenapa Kontra Memory Banding Arwan Koty tidak dibaca oleh majelis hakim, sedangkan banding yang dilakukan oleh pihak PT Indotruck Utama dibacakan, ucapnya.

Sebelumnya pihak Arwan Koty yang telah memenangkan perkara gugatan wanprestasi dengan perkara Nomor 181/Pdt.G/2020 terhadap PT Indotruck Utama ingin menyampaikan apa yang dibacakan oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta jauh sangat berbeda dengan bukti yang dia ajukan melalui kontra memory banding.

Finny fong juga mejelaskan pada awak media terkait putusan perkara wanprestasi tersebut, yaitu, Ketua majelis Hakim pengadilan negeri jakarta utara Fahzal Hendri, SH, MH. yang didampingi Hakim anggota Tugianto, SH dan Agung Purbantoro, SH, MH telah menerima dan mengabulkan permohonan gugatan wanprestasi yang dimohonkan oleh Arwan Koty terhadap PT.Indotruck Utama.

Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo menyatakan Sah surat Perjanjian Jual Beli Nomor 157/PJB/ITU /JKT/VII/2017tertanggal 27 Juli 2017 atas Excavator dengan merk Volvo dengan tipe EC 210D. Majelis hakim juga menyatakan bahwa PT Indotruck Utama telah melakukan wanprestasi terhadap isi Perjanjian Jual Beli Nomor 157/PJB/ITU /JKT/VII/2017.

Oleh majelis hakim, PT Indotruck Utama diganjar untuk membayar kerugian materil Kepada Arwan Koty secara sekaligus dan seketika sebesar Rp.1.265.000.000,(satu miliar dua ratus enam puluh lima juta rupiah).

Ketua majelis Hakim Fahzal Hendri, SH, MH, juga menghukum PT Indotruck Utama agar membayar bunga sebesar 6% pertahun senilai Rp.1.265.000.000, terhitung sejak perkara wanprestasi dengan nomor perkara 181/Pdt.G/2020 didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan putusan itu agar secepatnya di laksanakan oleh pihak PT Indotruck Utama.”Jelasnya.

“Sedangkan Aristoteles MJ Siahaan, SH selaku kuasa hukum Arwan Koty mengatakan, kami sangat kecewa dengan kinerja dari Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang tidak gelar sidang pemeriksaan berkas secara transparan, dan langsung membacakan putusan. Padahal secara lisan telah disampaikan oleh bagian Humas akan mengundang kehadiran terbanding dan Pembanding pada saat sidang.

Menurut Aris biasa dia disapa mengatakan, Putusan hari ini bisa dikatakan penemuan hukum, artinya sangat negative. Mungkin inilah satu-satunya hakim yang memutus perkara wanprestasi dengan menggunakan prestasi orang lain.

“Dalam putusan ini dia memakai putusan lain, didalam wanprestasi ini tidak boleh menggunakan putusan lain, bahkan melawan hukum kalau digunakan, itulah wanprestasi, dan bagaimana sakralnya sebuah perjanjian. Sebab ada dua unit eskavator kata majelis dalam pertimbangannya, sementara dalam perkara 181 itu hanya satu, unit eskavator yang kami sengketakan faktanya ada putusanya ada, kan penggugat yang punya acara, siapa yang mendalilkan dia yang membuktikan, dan kami mendalilkan satu unit, kok malah menjadi 2 unit, sebenarnya siapa yang menggugat sih,” ujarnya.

Menurut Aris putusan ini merupakan penemuan hukum oleh majelis Arta Theresia. Dalam putusannya, boleh ditanya kepada ahli perjanjian atau ahli perdata ya, yang mengatakan bahwa perjanjian itu tidak boleh dipenuhi oleh orang lain, harus pihak yang ada didalam perjanjian itu, seandainya pun ada, itu harus ada perjanjian tambahan.

Aris juga menjelaskan, mengenai Soleh Nurcahyo, itu katanya orang yang ditunjuk oleh klien kami untuk mengangkut barang tersebut, fakta persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara mengatakan tidak ada penunjukan, tidak surat kuasa dari Arwan Koty dan tertuang juga dalam pertimbangan hakim dalam putusan wanprestasi No. 181/Pdt G/2020/PN Utr, dan dalam perjanjian 157 itu tidak ada yang namanya Soleh, dan tiba-tiba ditimbulkan orang yang namanya Soleh, dan kalau ditunjuk harus memiliki surat kuasa.

“Harusnya dia malu membuat putusan sepeti itu, mudah-mudahan tidak ada lagi hakim yang memutuskan perkara seperti itu. Tapi ingat nanti di Mahkamah Agung (MA) yang akan memeriksa tentang penerapan hukumnya, dan disitulah nanti akan terbukti kebenarannya,” pungkas Aris.

Hingga berita ini disiarkan Humas pengadilan Tinggi DKI Jakarta maupun Panitera Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tersebut belum satupun yang bisa dimintai keterangan. (MBPN-RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *