• Sel. Sep 21st, 2021

BHAYANGKARA

PERDANA NEWS

Perkebunan Kelapa Sawit LADBER diduga ilegal

Byadmin

Agu 24, 2021

Aceh Singkil, bhayangkaraperdananews.com
Tim JUSLEBAH telah menemukan perkebunan kelapa sawit yang diduga ilegal, seluas 500 H.a di Kabupaten Aceh Singkil, Senin(16/8/21).

Tim JUSLEBAH(Jurnalis,LSM & LBH), yang dikomandoi, Hitler Tumangger, SH, mengidentifikasi kebun itu berada di wilayah hukum Kecamatan Gunung Meriah dan Kecamatan Simpang kanan. Perkebunan kelapa sawit tersebut diberi nama “LADBER” yang diduga tidak memiliki izin HGU(Hak Guna Usaha).

Kebun LADBER(Ladang Bersama), diperkirakan telah ditanami kelapa sawit sejak tahun 2000an, dan kini sudah produktif yang memiliki pekerja sebanyak 60 orang. Produksi TBS(Tandan Buah Segar) Ladber tidak kurang dari 700 Ton per bulan.

Menurut pengakuan salah seorang pekerja yang disebut anak buah nya sebagai Assisten, Edwin Lubis, mengatakan bahwa kebun itu adalah milik pribadi yang terdiri dari beberapa orang Pemegang saham. Ada beberapa orang sebagai Owner yang saya ketahui diantaranya, H.Artas, alm.Indomora(diwakili anaknya),Jufri, dan Pak Widiarno, beber Edwin.

Sesuai Fakta-fakta di lapangan, Diduga kuat kebun Ladber yang berada diantara Lae tansan dan Lae ndelibar itu, tidak memiliki izin dan terindikasi banyak lagi mengangkangi peraturan dan Perundang-undangan.

Fakta pertama ialah, Tim Juslebah coba menge-cek keberadaan kebun Ladber tentang izinnya ke kantor DPMPTSP(Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu) di Singkil, ternyata tidak ada izin HGU nya, baik namanya kebun Ladber maupun kebun Indomora.

Fakta kedua, Tim Juslebah menanyakan tentang status pekerjanya, ke kantor Disnakertrans (Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi) Kab.Aceh Singkil, ternyata Perusahaan Ladber tidak terdaftar. “Perusahaan atau Kebun Ladber, tidak ada mencatatkan Peraturan Perusahaannya ke kantor ini. Pekerja mereka juga tidak ada tercatat”, kata Kabid Ketenagakerjaan, Cut Hasniati, SH,M.hum.

Edwin Lubis juga menjelaskan, semenjak dirinya bekerja dari tahun 2018 di Kebun Ladber, bahwa tidak mengetahui apakah kebun itu berupa PT, atau CV. Namun diakuinya bahwa para Pekerja yang ada, tidak terdaftar di Disnakertrans Aceh Singkil.

“Kalau masalah izin, itu bukan kapasitas saya untuk menjawabnya. Saya hanya disuruh bekerja di Kebun Ladber untuk mengurus tanaman agar bisa lebih maju dan berhasil. Setahu saya dulu Ladber ini dibawah naungan bendera CV.MLJ,(Maju Lunas Jaya). Apabila tidak ada izin atau tidak mentaati peraturan, ya.. berarti salah mereka MLJ. Pada bulan juli 2021 yang lalu, kebun Ladber pisah dari MLJ, dan kami saat ini sudah mandiri untuk menjual TBS ke PKS PT.Delima Makmur. Untuk kedepannya, saya akan buat program untuk pengurusan izin dan status pekerja, namun setelah jelas apakah Ladber ini CV, atau PT. Namun semua itu adalah Police dari para Owner kebun Ladber ini”, ungkap Edwin Lubis. (MBPN- Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *