• Sat. May 9th, 2026

BHAYANGKARA PERDANA NEWS

Investigasi Cepat dan Akurat

Salatiga Dalam Lintasan Sejarah

SALATIGA, bhayangkaraperdananews.com – Kegiatan yang bertajuk Forum Group Discussion (FGD) dengan tema Salatiga Dalam Lintasan Sejarah, merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Peneliti yang terdiri dari tiga kampus besar, yaitu Universitas Sebelas Maret, Universitas Muhamadiyah Solo dan Universitas Kristen Satya Wacana. Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd sebagai ketua tim peneliti menegaskan, bahwa kegiatan ini merupakan sebuah rangkaian kegiatan Penelitian Kolaborasi Perguruan Tinggi Dalam Negeri yang mengkaji tentang Kearifan Lokal Salatiga Kota Indonesia Mini dan Permodelan Etnopedagogi Digital untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Diharapkan luaran dari penelitian ini akan dapat dihasilkan sebuah model untuk pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar.

Dalam pemaparan materinya, Dr. Tri Widiarto, M.Pd., sebagai salah satu anggota tim memberikan penjelasan terkait dengan Salatiga dalam Lintasan Sejarah dari sudut pandang Babad Tanah Jawa dan Babad Demak. Kedua buku utama ini dipakai sebagai sumber untuk menjelaskan sejarah kota Salatiga yang toleran dan multikultur sejak dari proses pembentukannya menjadi sebuah kota. Pemaparan tersebut memberikan kisah lengkap dari Salatiga, dari Masa Pra Sejarah yang ditandai dengan Watu Lumpang di Tingkir, Setro, kemudian dilanjutkan dengan Masa Hindu Budha dengan Prasasti Plumpungan sebagai peninggalannya, selanjutnya dalam Masa Islam dengan kisah perjalanan Ki Ageng Pandanaran dalam kajian Babad Tanah Jawa dan ditandai dengan beberapa tempat persinggahannya yang ditinggalkan di Salatiga, kemudian diakhiri dengan masa colonial Belanda dengan Perjanjian Salatiga (1757) dan Kotapraja (1917) yang ditandai dengan bangunan Belanda dan para Zendingnya. Kisah lengkap Episode demi episode dipaparkan dengan jelas untuk mengkonstruksi nilai kearifan local di Salatiga.

Pemaparan ini dilanjutkan dengan diskusi dengan para akademisi untuk lebih memperdalam kajian kearifan local Salatiga sebagai Indonesia Mini. Hadir para akademisi diantaranya Dr. Yahyo Nehemia, M.Pd., Dr. Fibry Jati Nugroho, M.Si., Dr. Jessica yang memberi peran dalam memperdalam diskusi kearifan local Salatiga yang dikonstruksi dari sudut pandang Sosiologis, Religi dan Pendidikan. Turut hadir pula Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd dari UNS sebagai salah satu tim peneliti memberikan penjelasan dalam diskusi tersebut untuk kemudian diramu menjadi sebuah model pembelajaran etnopedagogi bagi siswa Sekolah Dasar. Dari hasil FGD tersebut Nampak nyata bahwa Salatiga memiliki kearifan local yang telah diwariskan dari Sejarah, kemudian dikonstruksi secara sosiologis, religus dan didukung dari segi Pendidikan, menghasilkan toleransi yang kuat di kota Salatiga. Tidak heran Salatiga dinobatkan oleh Setara Institute sebagai Kota Paling toleran di Indonesia pada tahun 2021. Kearifan local dan toleransi Salatiga akan terus dikembangkan dan dilestarikan, sehingga dapat menjadi miniatur Indonesia yang ramah terhadap semua etnis, ras, agama, suku dan golongan. (MBPN- Oleh : Dr. Fibry Jati Nugroho, M.Si)