• Fri. Jun 26th, 2026

BHAYANGKARA PERDANA NEWS

Investigasi Cepat dan Akurat

Memperkokoh Persaudaran GPI Untuk Mewujudkan Kasih Kristus Di Tengah Kehidupan Bergereja Dan Berbangsa

Ambon – Maluku, bhayangkaraperdananews.com – Realitas kehidupan sosial masyarakat terus berubah dengan semakin cepat dan kompleks. Olehnya, diperlukan cara berpikir dan paradigma baru dalam memahami perubahan-perubahan yang fenomenal saat ini.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh Prof. Dr. John Ruhulesin dalam rangka Studi Meeting Persidangan Sinode Majelis Sinode Am Gereja Protestan Indonesia yang dilaksanakan di Sinode Gereja Protestan Maluku, Jemaat Maranatha, Kota Ambon.

Lebih lanjut, Ruhelesin dalam paparannya mengidentifikasi 3 isu penting yang menjadi tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu disrupsi teknologi, krisis ekologi dan problem emosi. Dalam konteks ini, tiga hal perlu diperhatikan dengan serius, yaitu komodifikasi agama, politisasi agama dan spirtualisme agama.

Dalam konteks inilah, sub tema SMSA GPI 2022 menjadi relevan, “Memperkokoh Persaudaraan GPI untuk mewujudkan kasih Kristus di tengah kehidupan bergereja dan berbangsa”.

SMSA GPI 2022 yang diselenggarakan selama 3 hari di Kota Ambon, berlangsung dari 20-23 November 2022 yang ditandai dengan ibadah pembukaan di Jemaat Maranatha GPM yang dipimpin oleh ketua Sinode GPM, Pdt, Pdt. E.T Maspaitella.

Sedangkan Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Republik Indonesia secara resmi membuka kegiatan SMSA GPI tersebut didampingi oleh Gubernur Lemhanas yang diwakili oleh Laksda (Purn.) Robert Mangindaan , Hakim Mahkamah Konstitusi, Dr. Daniel Yusmic Foekh, Yusmic Foeh, Gubernur Maluku, Murad Ismail, PJ Walikota Ambon, Bodewin M Wattimena, Ketua Sinode AM GPI, Pdt. Rudy Ririhena dan unsur-unsur pimpinan pemerintah dan gereja lainnya yang hadir.

Secara khusus, Murad Ismail, Gubernur Maluku memberi pesan penting bagi komunitas gereja untuk memperhatikan kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama dalam rangka menyongsong Natal 2022, Tahun Baru 2023 dan juga perhelatan politik dalam konteks nasional maupun lokal. Gereja-gereja diharapkan menjadi agen perdamaian dalam rangka stabilitas dan kondusifitas masyarakat

Narasumber lain yang hadir pada perhelatan SMSA GPI 2020 adalah Laksda (Purn.) Robert Mangindaan, Prof. Dr. John A. Titaley, Pdt. Dr. Johan Robert Saimima, M.A dan Bpk. W. Girsang, Ph.D. Sekretaris Umum Sinode GPI Am, Pdt. Fransisca Tuanakotta secara khusus dalam wawancara yang dilakukan mengatakan bahwa Sidangan Majelis Sinode Am (SMSA) GPI ini, dilaksanakan dalam kondisi yang masih sulit.

Pendemi Covid-19 masih terasa, meskipun grafiknya semakin melandai menuju endemic. Kekerasan masih terus menunjukan wajah bengisnya. Kematian 130 lebih orang dalam tragedi Kanjuruhan semakin membuat orang harus semakin waspada.

Dunia juga sedang menghadapi krisis pangan dan energy yang sangat serius akibat dari perang Ukraina dan Rusia yang semakin mengancam perdamaian dunia.

Dalam konteks itu, kita akan menggumuli sebuah tema dan subtema penting. Bagaimana Kasih Kristus diwujudkan dalam kehidupan pelayanan gereja dan bangsa bahkan dunia Oikos yang satu ini. Meskipun demikian, persidangan ini adalah amanat konstitusi GPI. Kita akan melakukan evaluasi terhadap capaian apa saja yang sudah dilakukan oleh BPH GPI maupun komitmen 12 Gereja Bagian Mandiri (GBM) dalam mengimplementasi keputusan konstitusionalnya.

SMSA ini juga bertugas memutuskan program kerja satu tahun kedepan untuk dilaksanakan bersama sebagai gereja yang terus membangun persekutuannya dalam spirit gereja orang basudara.

Selain lingkungan internal GPI, tetapi lingkungan eksternal tidak kalah penting untuk menjadi perhatian GPI dalam desain programnya. Supaya kehadiran GPI makin terasa dan berdampak bagi gereja, bangsa dan dunia. Meskipun krisis kebangsaan dan ecumene gereja di lingkungan GPI terlihat suram, namun kita perlu menggemakan Kembali Kasih Kristus yang menghidupkan dan memberi pengharapan bagi seluruh dunia.

Sebuah kasih yang tak pernah terbatas pada kelompok dan golongan tertentu. Tetapi sebuah Kasih yang menembus batas primordial, denominasionalisme, menembus tembok perbedaan agama, suku sehingga kasih itu dapat menyapa semua umat manusia dan ciptaan lainnya.

Semua krisis kita tanggapi dengan perspekti teologi akan kasih Kristus yang menggerakan kita untuk mengerjakan misi kerajaan Allah ini dalam dunia ini.

Kasih itu bukan ucapan saja, tetapi sebuah tindakan nyata yang harus diambil oleh gereja-gereja sebagai gaya hidup gereja dalam berteologi. (MBPN-Daud Alfons Pandie)