KOTA SEMARANG | bhayangkaraperdananews.com – Kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan mendorong Kombes Pol Slamet Loesiono, S.I.K., M.H., menghadirkan sebuah gagasan perubahan di lingkungan melalui inovasi “EKSPRESI HIJAU” (Ekosistem Ekonomi Kurikulum Presisi Hijau). Gagasan tersebut merupakan Proyek Perubahan yang digagas Kombes Pol Slamet Loesiono dalam rangka mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI LAN RI Tahun 2026.
Dalam keterangannya di Akpol Semarang, Kombes Pol. Slamet Loesiono menjelaskan bahwa proyek perubahan ini lahir dari kegelisahan terhadap persoalan limbah organik yang dihasilkan setiap hari di lingkungan ksatrian dan asrama satuan pendidikan Polri.
Menurut Kombes Pol Slamet, persoalan tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai masalah kebersihan dan sanitasi. Dengan pendekatan kepemimpinan strategis dan ekologi sirkular, limbah organik justru dapat dikonversi menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“EKSPRESI HIJAU ini merupakan gagasan proyek perubahan yang saya dorong untuk mengubah cara pandang kita terhadap limbah. Jangan sampai limbah hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kita ingin mengubahnya menjadi sumber daya yang bermanfaat sekaligus membangun kesadaran lingkungan di kalangan peserta didik Polri,” ujar Kombes Pol Slamet Loesiono. Selasa (11/8)
Ia menjelaskan, perubahan mindset menjadi sasaran utama dari proyek perubahan tersebut. Menurutnya, pembentukan personel Polri masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan profesional di bidang kepolisian, tetapi juga harus dibekali kepemimpinan yang mampu merespons persoalan strategis, termasuk perubahan lingkungan dan ketahanan pangan.
“Target utamanya adalah mindset change. Saya ingin masyarakat memiliki cara pandang baru bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari kepemimpinan. Dari sinilah green leadership harus dibangun sejak mereka berada di lembaga pendidikan,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, gagasan EKSPRESI HIJAU kemudian diimplementasikan melalui pilot project di tiga satuan pendidikan Polri, yakni Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Pusat Pendidikan Binmas (Pusdik Binmas) Banyubiru, dan Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto.
Pemilihan ketiga satuan pendidikan tersebut memiliki makna strategis. Akpol merupakan lingkungan pendidikan pembentukan calon perwira Polri, Pusdik Binmas memiliki peran dalam pembentukan kompetensi fungsi pembinaan masyarakat, sedangkan SPN menjadi salah satu pusat pembentukan Bintara Polri.
Melalui proyek perubahan yang digagas Kombes Pol Slamet tersebut, limbah organik yang berasal dari dapur umum, ruang makan, dan kantin dimanfaatkan sebagai bahan baku Eco Enzyme melalui proses fermentasi menggunakan limbah organik, gula, dan air.
Produk yang dihasilkan selanjutnya diarahkan untuk dikembangkan menjadi Pupuk Organik Cair (POC) Eco Enzyme dengan proses pengolahan yang memenuhi prinsip ilmiah serta ditargetkan memenuhi kriteria mutu sesuai Kepmentan Nomor 261 Tahun 2019.
Dalam ekosistem tersebut, Primkoppol (Primer Koperasi Kepolisian) diproyeksikan berperan sebagai off taker berbadan hukum yang mendukung proses pengemasan dan distribusi produk sehingga inovasi tidak berhenti pada proses pembelajaran, tetapi dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem ekonomi sirkular.
“Saya ingin proyek perubahan ini memiliki keberlanjutan. Artinya, tidak hanya menghasilkan produk Eco Enzyme, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir, mulai dari perubahan perilaku, pengelolaan limbah, proses produksi, sampai bagaimana hasilnya dapat dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi,” jelasnya.
Bagi Kombes Pol Slamet, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun karakter kepemimpinan Polri yang lebih visioner dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
“Polisi masa depan harus memiliki perspektif yang lebih luas. Mereka tidak hanya dituntut mampu menjaga keamanan, tetapi juga memahami persoalan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, green leadership harus menjadi bagian dari karakter pemimpin Polri ke depan,” ungkapnya.
Melalui EKSPRESI HIJAU, Kombes Pol Slamet menargetkan terbentuknya “Ksatrian Tanpa Sampah” atau Zero-Waste Ksatrian, sekaligus membangun budaya baru di lingkungan pendidikan Polri yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Dalam jangka panjang, proyek perubahan ini diharapkan dapat melahirkan Green Police, yaitu personel Polri yang memiliki kesadaran ekologis dan mampu menjadi agen perubahan dalam mendorong masyarakat menerapkan pola hidup berkelanjutan.
Tidak berhenti di lingkungan pendidikan Polri, inovasi tersebut juga diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya petani dan pelaku perkebunan melalui alternatif pupuk organik cair yang terjangkau.
“Ukuran keberhasilan proyek perubahan ini bukan hanya berapa banyak limbah yang berhasil kita olah, tetapi seberapa jauh terjadi perubahan perilaku dan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan. Kalau peserta didik berubah mindset-nya, lingkungan menjadi lebih baik, dan masyarakat mendapatkan manfaat, maka di situlah nilai dari proyek perubahan ini,” pungkas Kombes Pol Slamet Loesiono.
EKSPRESI HIJAU menjadi representasi sebuah proyek perubahan yang berangkat dari gagasan kepemimpinan, kemudian diterjemahkan menjadi inovasi nyata: mengubah limbah menjadi nilai, mengubah perilaku menjadi budaya, dan mengubah pendidikan menjadi kekuatan untuk membangun ketahanan lingkungan dan pangan. (MBPN-Andre/Bid Humas Polda Jateng)
