Jakarta, bhayangkaraperdananews.com – Badan pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Indonesia (BPH GPI-Am) pada Sabtu (26/6) melaksanakan webinar nasional seri ke-4 dalam rangka menyongsong penyelenggaraan Sidang Sinode Am (SSA) 2021 dengan Tema “ Yesus adalah yang Awal dan yang Akhir” dan Sub Tema “Memperkuat Komitmen Keesaan dan Kemandirian Gereja dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan Bangsa”. Webinar ini dilaksanakan oleh Panitia SSA dari Komis Teologi dan Komisi Germasa yang beranggotakan Pdt. Fransiska Tuanakotta, Pdt. Jeirry Sumampouw, Pdt, Audry Wuisang, Esther GN. Telaumbanua, Debbie Sondakh, Pdt. Henrik Lokra dan Pdt. Hendrik L. Tiwow. Pdt. Danny Marentek dan Pnt. Ferry A Sumarandak.
Narasumber dalam webinar ini adalah Pdt, Dr. Abraham Silo Wilar dari STFT Jakarta, Pdt. Dr. Steve Gaspers dari Universitas Kristen Indonesia Maluku, Gifliyani Nayoan, M.Th, dan Tokoh Muda Nadhalatul Ulama, Gus Aan Anshori. Moderator yang memandu jalannya webinar adalah Dr. Daud Alfons Pandie dari Sinode IECC sekaligus dosen pada STT Reformed Injili Internasional.
Ketua BPH Gereja Protestan Indonesia, Pdt. Dr. Liesye Sumampouw mengawali seminar dengan sambutan. Pdt. Liesye Sumampouw menyampaikan terimakasih kepada para narasumber yang terlibat dalam webinar ini dan kepada seluruh peserta yang berjumlah 134 Orang dari berbagai latar belakang Agama, Gereja dan organisasi, dan intitusi perguruan tinggi baik dalam negeri maupun dari luar negeri sebelum para narasumber memaparkan materinya.
Sinode GPI-Am sendiri sebagai pada bulan Agustus mendatang akan mengadakan kegiatan SMSA, SSA dan HUT GPI yang ke-415 di Makassar, Sulawesi Selatan melibatkan ke-12 Gereja Bagian Mandiri (GMIM, GPM, GMIT, GPIB, GPID, GPIBT, GPIG, GKLB, GPI Papua, IECC, GPIBK dan GERMITA) yang wilayah pelayanannya tersebar mulai dari wilayah Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote.
Webinar seri ke-4 ini secara khusus mengkaji dan membahas tentang Gereja dari Perspektif Kaum Muda. Dalam pengantar oleh moderator, dikemukakan salah satu temuan dalam penelitian yang dilakukan yang menunjukkan bahwa sebagian besar kaum muda di Indonesia tidak tertarik lagi dengan gereja karena berbagai faktor. Narasumber pertama, Pdt. Dr. Abraham Silo Wilar memaparkan materinya dengan judul “Return to the Ultimate Holiness: Suara Emergig Generation menjawab “Masih adakah Masa Depan GPI?”. Menurut Wilar, GPI masih memiliki masa depan bila GPI tetap berada di dalam Tuhan yang menjadi sumber dan panggilan hidup GPI. Untuk dapat berada di dalam Tuhan, Kekudusan Ultim adalah
habitus dari GPI. Di luar Tuhan tidak ada masa depan, termasuk mengandalkan ego dan libido kekuasaan manusia, baik diri sendiri atau orang lain, tidak ada masa depan di sana.
Gifliyani Nayoan sebagai narasumber kedua memaparkan materinya dengan judul “Memperkuat Komitmen dan Keesaan Gereja dalam menghadapi tantangan bangsa” mengusulkan suatu model Gereja yang inklusif, terbuka pada konteks di luar dirinya; memahami konteks sekitarnya sebagai “sesama” (Lukas 10:36-37) termasuk kaum rentan dan orang asing (Ulangan 10:18-19); Gereja ikut menciptakan ruang-ruang dialog/sinergi – tidak hanya sebagai peserta dialog – dengan elemen masyarakat, negara/pemerintah sebagai sarana komunikasi iman dan berteologi di tengah konteks sosial-politik-budaya dimana gereja hadir; Gereja sebagai pejuang NILAI KEBANGSAAN dan PENYEMBUH luka (fisik, psikis, mental dan luka sejarah).
Narasumber ketiga, Pdt. Dr. Steve Gaspers yang adalah dosen pada program pascasarjana Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) mengemukakan berbagai kompleksitas permasalahan kaum muda yang menjadi tantangan bagi gereja saat ini. Pragmatisme menjadi tantangan lain yang membawa gereja pada upaya baru dalam model dan fungsi pelayanannya. Sebagai titik simpul dari paparannya, Gasperz mengusulkan tiga hal, yaitu: Kaum muda gereja dan pergulatan politik identitas, Glokalisasi dan sustainable development serta Masa depan oikoumene semesta bagi kaum muda.
Narasumber keempat, Gus Aan Anshory dari tokoh muda NU dari jaringan Gusdurian jawa Timur membawakan materi dengan judul: “An outsiders Look: Memperkuat komitmen keesaan dan kemandirian gereja mengusulkan sebuah model baru bagi gereja dalam interaksinya dengan elemen sosial masyarakat lainnya, yaitu menjadi gereja yang inklusif. Dalam konteks dan realitas Indonesia yang rentan dengan konflik dan sikap saling mencurigai, Gereja perlu melakukan apa yang disebut “memupus prasangka, menyemai asa”.
Webinar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab bagi seluruh peserta yang bergabung webinar via daring. Sebagai penutup, Moderator mengutip kalimat dari Kahlil Gibran: “Anak kalian bukanlah anak kalian. Mereka putra-putri kehidupan yang merindu pada dirinya sendiri. Berikan kepada mereka cinta kalian, tapi jangan gagasan kalian, karena mereka memiliki gagasan sendiri. Kalian boleh membuatkan rumah untuk raga mereka, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tidak bisa kalian kunjungi, sekalipun dalam mimpi. Kepada kita semua rekan-rekan muda dan yang masih merasa muda, Mazmur 119:9: Dengan apakah seorang muda dapat mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaga kelakuannya sesuai dengan Firman Tuhan. (MBPN-Daud Alfons Pandie)
