BALI, bhayangkaraperdananews.com – Sejak beberapa tahun lalu, Pura Pajinengan Gunung Tap Sai, mulai ramai didatangi umat Hindu dari berbagai daerah di Bali. Apalagi saat purnama dan tilem, pamedek numplek hingga tengah malam di pura setempat. (01 Januarin 2022 17:44 Wita).
Pura yang lebih dikenal dengan Pura Tap Sai ini terletak di Dusun Puregai, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Pengemponnya adalah krama Puregai.
Untuk mencapai pura ini lewat jalur Desa Pempatan – Desa Ban Pura yang masuk wewidangan Banjar Adat Puregai,Desa Adat Besakih ini berada di tengah hutan, di lereng Gunung Agung atau sering juga disebut Gunung Jineng. Meski berada di lereng gunung, tak sulit menjangkau Pura Tap Sai itu. Jalannya sudah bagus, diaspal sampai di jaba pura.
Salah seorang Prajuru di pura setempat, Kelihan Adat Puregai, I Nyoman Buda, mengatakan, pura itu sebenarnya bernama Pura Pajinengan. Berada di lereng Gunung Agung. Nama Jineng itu menurutnya diambil dari Gunung Jineng yang ada di sana. “Secara umum namanya Gunung Agung,” jelasnya saat ditemui Media Bhayangkara Perdana News (MBP News Nasional ).
Bagaimana dengan sebutan Tap Sai? Dengan senyum mengembang, I Nyoman Buda. mengatakan bahwa pertanyaan itu sering dilontarkan sejumlah pamedek yang nangkil ke sana. Sebutan itu lebih memasyarakat di luar desa. Hal itu terbukti saat Awak Media ini bertanya kepada sejumlah warga di wilayah Dusu Daya yang berbatasan dengan Puregai Beberapa dari mereka malah kebingungan ketika ditanya Pura Tap Sai. Tahunya Pura Pajinengan.
I Nyoman Buda menceritakan, Tap Sai itu berawal dari kata matapa sesai atau sai-sai (setiap hari bertapa atau bersemedi, News). Semakin sering diucapkan, malah menjadi Tap Sai.
“Mendengar namanya, sepertinya kecina-cinaan. Tapi tidak ada hubungan dengan Cina. Karena itu tadi, matapa sai-sai. Lama kelamaan menjadai Tap Sai,” terang I Nyoman Buda.
Konon, lanjut dia, tempat berdirinya pura itu dulunya adalah tempat bersemedi. Tak diketahui dengan pasti, kapan pura itu mulai ada. Kelihan Adat berusia 5o tahun ini, sebatas memberikan gambaran bahwa pura tersebut sudah ada sejak dirinya masih kecil. Namun, bangunannya tak sebagus sekarang. Begitu juga dengan palinggihnya juga dulu tidak beragam. Dia menegaskan bahwa adanya banyak palinggih, dan pura semakin terawat sejak dilakukan rehab pura tahun 2000-an.
“Upacara besarnya setelah pembangunan itu digelar , yaitu sekitar tahun 2015. Sejak saat itu lah mulai ramai nangkil,” cerita Kelih Adat Puregai. Pernyataan I Nyoman Adat Puregai ini, juga dibenarkan Jro Mangku Kariasa dan Jro Mangku Puspa. Mereka menyebutkan, ada tiga dewi berstana di pura itu. Yakni Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan Dewi Laksmi atau disebut Bhatara Rambut Sedana, dan sering pula disebut Tri Upa Sedana. Umat Hindu percaya bahwa dengan memohon atau nangkil ke pura itu, akan mendapat anugerah. Banyak juga, lanjut I Nyoman Buda, pamedek nangkil untuk memohon keturunan. Karena memang ada palinggih Lingga Yoni.
“Kalau memohon keturunan biasanya di sini, ada juga memohon biar lancar dalam bisnis,” ujarnya sambil menunjukkan palinggih Lingga Yoni.
Bagi mereka yang akan nangkil, diharapkan mematuhi aturan yang ada, yakni dilarang langsung nyelonong ke utama mandala. Ada beberapa tahapan sembahyang mesti dilalui.
Dimulai dari paling bawah di palinggih Ratu Penyarikan Pengadang-adang, dilanjutkan sembahyang di palinggih Ratu Gede Mekele Lingsir. Sebuah palingih batu besar bertuliskan huruf Bali. Naik lagi, itu ada palinggih Widyadara-widyadari. Kemudian dilanjutkan pangayengan Dalem Ped (Pura dalem Ped di Nusa Penida). Selanjutnya naik lagi menuju beji. Di sana, pamedek malukat dengan tirta yang disebut tirta bang, yang merupakan salah satu jenis tirta di pura itu.
I Nyoman Buda menyebutkan, ada tiga tirta dari klebutan atau sumber air berbeda di pura itu. Yakni tirta bang, tirta selem, dan tirta putih. Khusus untuk tirta putih belum dialirkan ke bawah, masih harus mendaki. Sedangkan tirta selem sudah bisa nunas di areal Utama mandala. Setelah malukat di beji ini, baru diperkenankan masuk areal madya mandala. Di sana terdapat Sebuah palinggih Ganesha atau oleh pamangku setempat disebut Sanghyang Gana. Setelah nangkil di sana, dilanjutkan ke utama mandala yang merupakan komplek palinggih Ida Bhatari Tri Upa Sedana. Palinggih Lingga Yoni juga ada di sini. setelah itu, dilanjutkan sembahyang di palinggih Ratu Hyang Bungkut.
“Harus diikuti alurnya itu kalau tidak ingin terjadi hal-hal negatif. Ibaratkan secara skala, izin dulu dengan yang di bawah sebelum masuk pura,” ungkapnya, Kelih Adat Puregaai. (MBPN-Nengah Suena)
