KENDAL | bhayangkaraperdananews.com – Warga Pandansari Desa Tampingan kecewa atas kebijakan Kepala Desa Tampingan yang tidak transparan dan penuh rekayasa, segala keputusan tidak pernah membuahkan hasil yang positif, warga sebenarnya tidak mau mencoreng daerahnya sendiri apalagi pemimpinnya, tetapi karena kesalahan yang dibuatnya sendiri sehingga warga mau tidak mau berteriak.(6/8/25)
Menurut keterangan yang dapat dihimpun dari warga Pandansari Desa Tampingan Kecamatan Boja mengungkapkan tidak transparan terkait adanya dana bantuan CSR sebesar Rp. 900jt lebih yang dikelola oleh Pemerintah Desa Tampingan, dalam hal ini warga Pandansari ingin minta penjelasan atas laporan penggunaan dana bantuan CSR tersebut, yang semula sepakat diperuntukkan untuk; Mushola, Masjid, PKK, Karang Taruna, Makam dan kegiatan warga, setelah ditanyakan tidak ada dananya dengan alasan sudah habis untuk membangun beberapa Ruko dan dipakai untuk beberapa kegiatan, hal ini yang membuat warga pandansari tanda tanya besar terus kemana dana segitu besar.
Dugaan adanya penyelewengan anggaran yang mengarah kepada Kepala Desa Tampingan dan perangkatnya banyak kejanggalan anggaran yang dipakai untuk membangun Ruko laporannya menggunakan dana desa sebesar Rp. 250 jt tetapi juga mengambil dana bantuan CSR, dalam hal ini dugaan warga kuat adanya indikasi penyalahgunaan dana bantuan CSR dan ADD, sehingga asumsi ini mengarah pada penggunaan ADD dengan menyelewengkan dana bantuan CSR.
Menurut penuturan Warga Pandansari bahwa merasa tidak pernah disentuh atau dilibatkan dalam pengelolaan dana bantuan CSR tersebut, padahal CSR kebanyakan didapat dari wilayah Pandansari, seringnya diabaikan dan dilewati, setiap ada keputusan hasil rapat baru diberitahu atau dikabari inipun banyak terjadi kejanggalan di laporan keuangan, maka dengan adanya kasus ini warga berharap dapat segera terbongkar kedoknya siapa yang bermain dalam kasus ini, sudah beberapa pejabat yang dimintai pendapat tetapi belum ada tanggapan yang serius sampai berita ini diturunkan. (MBPN-red)
