• Ming. Mei 28th, 2023

BHAYANGKARA

PERDANA NEWS

Ketiga Orangtua Korban Pengeroyokan Minta Keadilan ke Polisi

ByMBP-NEWS

Apr 30, 2023

GROBOGAN, bhayangkaraperdananews.com | Pengroyokan yang dilakukan warga ngraweng di malam takbiran 22/4/2023 hari Sabtu sekitar pukul 03,00 malam, kini belom bisa diselesaikan secara kekeluargaan, walau berberapa tokoh masyarakat berusaha menjembatani pertemuan keluarga, beberapa kali gagal.

Tokoh masyarakat ngambakrejo H MM,ketika ditemui tim investigasi media bayangkara perdana news, mengatakan "

Saya menyayangkan adanya beberapa media dalam pemberitaannya tidak imbang, yang seharusnya terlapor ataupun pelapor juga pemerintahan desa dimintai keterangan sehingga berita yang muncul tidak memihak, membuat suasana Ngambakrejo isunya semakin panas,”

Ketiga orang tua yang menjadi korban pengeroyokan merasa sedih karena anaknya sampai saat ini belom bisa beraktifitas, malah salah satu korban yaitu Seno saat ini tidak bisa jalan karena kakinya patah, kekamar mandi harus digendong,  dalam wawancaranya dengan MBP News khoeruden orang tua korban dari Seno mengatakan," saya minta keadilan kepada bapak polisi, untuk menindak seadil adilnya atas kejadian yang dialami anak saya,"

Beberapa tokoh masyarakat baik Ngraweng ataupun Ngambak ketika ditemui tim MBP News, menyayangkan pengroyokan puluhan pemuda Ngraweng dilokasi areal masjid Ngambakrejo membuat kotak amal mesjid rusak, sehingga BKM harus memperbaiki sehingga kotak amal bisa digunakan di acara sholat idul Fitri, kejadian pengroyokan di lokasi mesjid Ngambak itu disaksikan orang tua terlapor dan beberapa orang tua terlapor yang lain.

Seorang ulama Ngambakrejo KH Am ketika disowani Awak media mengatakan ” Saya mendukung sekali perdamaian antara keluarga pelapor dan terlapor, dan apabila tidak terjadi kesepakatan, saya minta hukum ditegakkan seadil adilnya, sehingga pelaku pengroyokan merasa jera dan takut melakukannya lagi, karena untuk pasal pengroyokan sudah terpenuhi.

Pasal 170 KUHP ini menjatuhkan pidana terhadap orang – orang yang melakukan kekerasan, dimana akibat dari perbuatannya membuat korban mengalami luka ringan, luka berat, atau sampai menghilangkan nyawa korban.

Pasal 170 KUHP yang berbunyi:

(1) Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Yang bersalah diancam:

  1. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, jika ia dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka;
  2. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, jika kekerasan mengakibatkan luka berat;
  3. dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika kekerasan mengakibatkan maut.

Dengan memperhatikan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, Majelis Hakim akan langsung memilih dan mempertimbangkan dakwaan yang dianggap tepat diterapkan dan mendekati dalam perkara tersebut.

Yaitu dakwaan Pertama, Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP yang dimana adanya unsur berupa delik yaitu, unsur siapa yang melakukan perbuatan, apakah perbuatan itu secara terang – terangan dan bersama –sama, adanya penggunaan kekerasan terhadap orang atau benda, serta apabila kekerasan itu sampai menghilangkan nyawa. (MBPN-Muhtarom)