• Sab. Okt 1st, 2022

BHAYANGKARA

PERDANA NEWS

Mantan Junior Manager Perhutani KPH Surakarta Jadi Tersangka Kasus Korupsi

ByMBP-NEWS

Agu 30, 2022

SURAKARTA, bhayangkaraperdananews.com – Mantan Junior Manajer Bisnis Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutam (KPH) Surakarta berinisial YCA ditetapkan Kejari Sragen sebagai tersangka kasus korupsi.

Tersangka YCA, 40, mantan Junior Manager Bisnis Perum Perhutani KPH Surakarta keluar dari Kantor Kejari Sragen dengan kondisi tangan diborgol

Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen menetapkan YCA, 40, mantan Junior Manager Bisnis Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutam (KPH) Surakarta sebagai tersangka kasus korupsi dana Perhutani. Kerugian negara akibat kasus tersebut masih dihitung, namun diperkirakan di atas Rp100 juta.

Penyalahgunaan dana Perum Perhutani yang diperoleh dari pemanfaatan lahan oleh petani penggarap di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tangen, Sragen, tersebut diduga dilakukan tersangka dalam kurun 2017-2020.

“Kami menetapkan YCA selaku tersangka. Perkara tersebut diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara. Tersangka langsung kami tahan selama 20 hari terhitung mulai Kamis [25/8/2022) ini,” jelas Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sragen mewakili Kepala Kejari, Ery Syarifah, dalam jumpa pers di kantornya, Kamis.

YCA di tahan di Rumah Tahanan Polres Sragen untuk kepentingan penyidikan. Ada dua alasan kenapa penyidik menahan YCA. Alasan pertama, menurut Agung, ancaman hukuman pidana perkara yang menjerat tersangka lebih dari lima tahun. Alasan lainnya, tersangka dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan kemungkinan mengulangi tindak pidana.

Didampingi Kasi Intel Kejari, Dipto Brahmono, Agung menjelaskan kerugian belum bisa dipastikan karena masih dihitung oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Jawa Tengah (Jateng). Namun Agung memperkirakan nominalnya di atas Rp100 juta.

“Jabatan tersangka itu mantan Junior Manager Bisnis Perum Perhutani KPH Surakarta. Ya, kantornya di KPH Surakarta tetapi kegiatannya di BKPH Tangen, Sragen. Jadi dugaan penyalahgunananya itu, ada kegiatan yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya di Sragen. Ini terkait material perkara tidak bisa kami jelaskan lebih lanjut karena juga menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah,” kata Agung.

Ia memastikan tak menutup kemungkinan adanya tersangka lain. Sudah banyak saksi yang dimintai keterangan, di antaranya para petani. “Ada indikasi penyalahgunaan. Ya, diduga ada kegiatan yang tidak dilaksanakan atau kegiatan fiktif tetapi ada pertanggungjawabannya. (MBPN-Muhtarom)