BLORA | bhayangkaraperdananew.com – Sekitar 2.000 petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menggelar aksi damai di Alun-alun Blora, Kamis (2/4/2026). Mereka datang dengan iring-iringan 190 truk dan beberapa alat pertanian, menuntut kepastian operasional Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) yang telah mandek (berhenti) sejak tahun lalu akibat kerusakan mesin boiler.
Ketua APTRI Blora, Sunoto, menegaskan bahwa hanya Direktur Utama Perum Bulog dan Presiden yang bisa menjawab dan menyelesaikan masalah ini. “Siapapun yang dituntut tidak akan menyelesaikan masalah apabila Dirut Bulog dan Presiden tidak yang menyelesaikannya sendiri,” ujarnya dalam orasi.
Ada tiga tuntutan utama yang disampaikan massa:
1. Membenahi dan mengoperasikan kembali PG GMM pada musim giling 2026.
2. Melakukan pergantian manajemen pabrik agar lebih profesional.
3. Jika Bulog tidak sanggup mengelola, maka pabrik harus dialihkan ke pihak lain seperti PTPN, swasta, atau Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Sunoto juga menyampaikan kekhawatiran atas kerugian yang dialami petani. Tahun lalu, sekitar 5.000 hektare tebu tidak terserap dengan estimasi kerugian mencapai Rp100 miliar. Jika tahun ini pabrik tetap tidak beroperasi, kerugian diprediksi akan berlipat ganda.
Massa juga memberikan ultimatum hingga tanggal 10 April 2026. Jika tidak ada kepastian, mereka berencana melakukan aksi lanjutan hingga ke Jakarta.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan komitmennya untuk mendukung petani tebu Blora dan memastikan hasil panen terserap optimal. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mencari solusi terbaik.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan. (MBPN-ISMAN)
