KUDUS | bhayangkaraperdananews.com – Perjalanan spiritual Thudong bertajuk Walk For Peace 2026 yang diikuti 16 Bhikkhu dari kawasan Candi Sima Jepara menuju Candi Plaosan dan Candi Sewu Klaten. Perjalanan spiritual ini selama 11 hari dari 20 -31 Mei 2026 membawa pesan semangat toleransi, kerukunan dan kedamaian untuk negeri. Kegiatan Thudong atau perjalanan spiritual berjalan kaki ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Waisak 2570 BE sekaligus membawa pesan perdamaian, persaudaraan, dan toleransi antarumat beragama melalui tema Walk For Peace. Sebanyak 16 Bhikkhu mengikuti perjalanan spiritual tersebut dengan rute Jepara, Demak, Semarang, Ungaran, Salatiga hingga Klaten.
Pada Sabtu pagi, 23 Mei 2026, rombongan bhikkhu tersebut singgah untuk beristirahat di Balai Desa Geneng, Kabupaten Demak. Kedatangan para bhikkhu disambut hangat masyarakat dan perangkat desa setempat. Suasana penuh keteduhan dan kebersamaan tampak saat warga memberikan dukungan kepada para peserta Thudong yang berjalan kaki menempuh perjalanan lintas kabupaten di Jawa Tengah.
Saat berada di Balai Desa Geneng, para bhikkhu memanfaatkan waktu untuk beristirahat dan berinteraksi dengan masyarakat. Kehadiran mereka menjadi perhatian warga yang antusias menyaksikan langsung tradisi spiritual umat Buddha tersebut.
Salah satu Pengurus Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus, A.H Yulistyo yang membersamai rombongan Thudong saat itu memberikan apresiasi positif terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, Thudong bukan hanya perjalanan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi simbol kuat tentang pentingnya menjaga harmoni sosial dan budaya di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
“Perjalanan para bhikkhu ini memberikan pesan moral yang sangat baik bagi masyarakat. Semangat damai, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap sesama menjadi nilai penting yang perlu terus dirawat bersama,” ujar salah satu pengurus JAKER Kudus.
Hal senada juga disampaikan perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Kudus, E. Bambang W. Ia menilai kegiatan Walk For Peace menjadi momentum memperkuat moderasi beragama dan toleransi antarumat di Jawa Tengah.
“Kegiatan ini menunjukkan bahwa keberagaman di Indonesia dapat berjalan harmonis. Perjalanan Thudong membawa pesan kesejukan, persaudaraan, serta mengingatkan masyarakat untuk terus menjaga nilai toleransi dan kemanusiaan,” ungkap E. Bambang W.
Dukungan juga datang dari kalangan penyuluh lintas agama di Kabupaten Kudus. Penyuluh Agama Kristen, Nani H menyampaikan bahwa perjalanan Thudong menjadi teladan hidup damai dan bentuk nyata penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
“Semangat damai yang dibawa para bhikkhu menjadi inspirasi bagi seluruh umat beragama untuk terus membangun kehidupan yang rukun, saling menghargai, dan menebarkan kasih kepada sesama,” ujarnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Katolik, Kabupaten Kudus, Kristanto menilai kegiatan tersebut mencerminkan nilai universal tentang perdamaian dan persaudaraan antarumat manusia.
“Perjalanan spiritual ini bukan hanya milik umat Buddha, tetapi juga menjadi pesan moral bagi seluruh masyarakat agar menjaga persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Kudus. Menurut perwakilan IPARI Kudus, Ulul, kegiatan lintas daerah seperti Thudong memperlihatkan kuatnya budaya toleransi di Indonesia yang perlu terus dirawat bersama. “Indonesia dibangun di atas keberagaman. Kegiatan Walk For Peace menjadi pengingat bahwa perdamaian dan kerukunan harus terus diperjuangkan bersama oleh seluruh elemen bangsa,” ungkap perwakilan IPARI Kudus.
Perjalanan Thudong dikenal sebagai latihan spiritual yang mengajarkan kesederhanaan, keteguhan batin, disiplin, dan kedekatan dengan masyarakat. Selain menjadi ritual keagamaan, kegiatan ini juga dinilai memperkuat nilai kemanusiaan dan kerukunan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Dukungan lintas elemen masyarakat terhadap kegiatan ini terlihat sepanjang perjalanan. Sejumlah relawan, tokoh lintas agama, hingga komunitas budaya turut membantu pengawalan dan pelayanan bagi rombongan bhikkhu selama perjalanan berlangsung. (MBPN-Adrian)
