Aceh Singkil, bhyangkaraperdananews.com – warga desa Ketapang indah, kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil, memberhentikan mobil rombongan anggota DPR Aceh di jalan lintas Singkil-Rimo, tepatnya di di depan GOR Singkil.
Warga desa yang didominasi kaum ibu itu sengaja menyetop mobil wakil rakyat dari Provinsi itu, karena ingin kejelasan perihal laporan tentang tanah warga yang diserobot oleh Perusahaan Sawit PT.Nafasindo.
Tak pelak lagi, semua rombongan harus berhenti. Rombongan anggota DPR Aceh itu harus turun untuk meladeni apa maksud warga.
Dalam kunjungan kerja(Kunker) anggota DPRA ke kabupaten Aceh Singkil, seyogianya untuk penyelesaian sengketa tanah sebagaimana tindak lanjut yang dilaporkan warga beberapa bualan yang lalu.
Sengketa tanah Anatar warga dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Aceh Singkil, teramat runyam. Banyak sekali tanah warga diserobot, sehingga masyarakat sangat dirugikan. Sengketa warga kecamatan danau Paris dengan PT.Delima Makmur, sengketa tanah antar warga desa Ketapang indah dengan PT.Nafasindo, dan banyak lagi. Semua tanah warga/kelompok yang diserobot itu, belum ada yang tuntas. Konflik tanah belum ada yang terselesaikan hingga hari ini.
Kedatangan beberapa anggota DPRA komisi II ke Aceh Singkil, Senin(06/6), untuk mengadakan rapat dengan Pemda di kantor
Bupati Aceh Singkil.
Ketua komisi II DPRA, Irvan Nusir langsung turun dan merespon keluahan warga, seraya meneliti surat yang diberikan ibu-ibu.
“Bapak dan ibu-ibu, kita sudah dua kali bertemu, kami datang ke Singkil ini untuk mencari solusi. Keluhan bapak ibu kami dengar dan semua aspirasi yang disampaikan sudah menjadi PR bagi kami. Namun harus sabar, dan inilah maka kami munuju kantor Bupati untuk rapat dengan Bupati. Mohon dikumpulkan surat-surat yang dimiliki. Ini akan kami tuntaskan, karena persoalan ini sudah berlarut-larut. Jadi mohon bapak ibu sabar,” ujar, Irvan Nusir di tengah-tengah warga.
Beberapa ketua kelompok tani yang bersengketa, ikut serta rapat di Op Room kantor Bupati di Singkil, salah satunya ketua kelompok tani KTS, danau paris, Khairul Amrim.
Namun sangat disayangkan, dalam rapat peyelesain sengketa tanah itu tidak ada titik temu. Warga dan para ketua kelompok sangat kecewa. Rapat itu tidak menghasilkan apa-apa, tidak ada kejelasan alias mengambang.
Kunker DPRA ke Aceh Singkil, kiranya tidak menghasilkan apa-apa, konflik sengketa tanah tetap berlanjut. ” “Kami ini mengadu kepada siapa lagi..? Masyarakat selalu dirugikan, karena masyarakat tidak mungkin mampu melawan Perusahaan. Upaya apa yang harus kami perbuat?,” keluh, Khairul Amry. (MBPN_A1/02.HT)
