• Sab. Okt 1st, 2022

BHAYANGKARA

PERDANA NEWS

Pancasila dan Keindonesiaan Kita: Seminar Daring Kerjasama Program Studi Doktor Hukum UKI, MPK dan PISKA

ByMBP-NEWS

Jul 13, 2022

Cawang – Jakarta, bhayangkaraperdana-news.com – Ketahanan Pancasila sebagai ideologi dan pondasi berbangsa dan berbegara diuji di tengah berbagai dinamika perkembangan masyarakat saat ini. lalu bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila saat ini? Dalam kerangka persoalan tersebut, Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia, Majelis Pendidikan Kristen (MPK) dan Persekutuan Intelegensia Kristen Sinar Kasih (PISKA) telah menyelenggarakan seminar daring “Pancasila dan Keindonesiaan Kita” pada Rabu, 12 Juli 20220 dengan menghadirkan Dr. Aartje Tehupeiory, SH, MH, Prof. Dr. H. Ermaya Suryadinata, SH, MH, Prof Dr. John Pieris, SH, MS, MH, Dr. Nelson Simanjuntak, SH, M.Si, Angel Damayanti, Ph.D sebagai Narasumber.

Dalam seminar tersebut, Dr. Dhaniswara K Harjono, SH, MH, MBA sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia dan Dr. Drs Jopie J.A Rory, SH, MH selaku Sekretaris Umum Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia dan Prof. Dr. Mompang L. Panggabean, SH, M.Hum selaku ketua umu PISKA menjadi opening speech. Prof. Mompang L. Panggabean selaku ketua umum PISKA dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara, intelegensia Kristen di Indonesia, baik melalui PISKA, MPK dan UKI harus bisa memberikan solusi bagi masalah yang ada di dalam masyarakat saat ini.

Dalam pemaparan dan diskusi yang berlangsung, para narasumber bersepakat bahwa Pancasila pada hakekatnya merupakan ideologi yang terbuka. Apabila kita tidak berhati-hati, maka sebagai masyarakat, kita akan cenderung terpengaruh dan mengikuti arus ideologi dari luar, dan Pancasila sendiri bisa dilupakan, baik nilai-nilai dan implementasinya dalam kehidupan masyarakat.

Angel Damayanti, Ph.D sebagai salah satu Narasumber menjelaskan mengenai beberapa tantangan saat ini, salah satunya adalah banyak ideologi alternatif melalui media informasi dan juga media sosial yang mudah mempengaruhi generasi muda seperti radikalisme dan ekstremisme. Realitas ini menuntut pentingnya perhatian semua elemen bangsa, di tengah menurunnya intensitas pembelajaran Pancasila dan daya tarik pembelajarannya. 

Narasumber lainnya juga mengidentifikasi eksklusivisme sosial yang terkait derasnya arus globalisasi yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas, gejala polarisasi dan fragmentasi sosial yang berbasis SARA sebagai tantangan dan realitas bermasyarakat saat ini. Di samping itu, pertumbuhan jumlah pendudukan juga menjadi tantangan tersendiri untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di tengah arus globalisasi.

Pada kesempatan tersebut, para narasumber juga sepakat memberikan rekomendasi implementasi nilai-nilai Pancasila saat ini dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang menarik bagi generasi muda dan masyarakat. langkah selanjutnya adalah membumikan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan dan/atau pembelajaran berkesinambungan yang berkelanjutan di semua lini dan wilayah.

Dalam seminar daring yang diikuti lebih dari 150 peserta yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia, Esther G.N. Telaumbanua, S.E , salah satu peserta seminar yang juga merupakan Ketua Pembina Persekutuan Intelegensia Sinar Kasih (PISKA) berpendapat bahwa jika Pancasila menjadi acuan, maka implementasi nilai-nilai Pancasila akan lebih mudah terlihat dalam praktik bernegara, misalnya saat pengambilan kebijakan-kebijakan politik.. Pancasila bisa memberikan solusi di tengah adanya beragam ideologi seperti sosialis dan liberal serta di tengah usaha politik identitas oleh agama, etnik, dan kepentingan. (MBPN-Daud Alfons Pandie)